Ditemukan 7 karya tulis
Kajian tentang uji asumsi klasik berbantuan SPSS
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberikan contoh langkah-langkah yang tepat dalam penggunaan alat statistika dalam penelitian non eksak. Penggunaan model-model statistika sebaiknya harus sesuai dengan permasalahan yang diteliti, harus sesuai dengan kebutuhan penelitian. Jika alat statistika tidak disesuaikan dengan kebutuhan penelitian maka hasil penelitian tersebut kurang berbobot, dan akan mengancam keakuratan dan validitas interpretasi data. Dalam kenyataannya masih terdapat bentuk-bentuk kekeliruan penggunaan alat analisis statistika, dengan demikian tulisan ini dapat berguna sebagai contoh, untuk membantu dalam penulisan skripsi mahasiswa secara khusus dalam penggunaan model uji asumsi klasik dengan harapan memperbaiki kekeliruan sehingga keakuratan, dan validitas interpretasi data terjamin sesuai dengan asumsi permasalahan yang diteliti.
STUDI FENOMENOLOGI TENTANG KECEMASAN MAHASISWA NON-ADVENT DALAM KEGIATAN PEKAN DOA DI UNIVERSITAS ADVENT SURYA NUSANTARA PEMATANGSIANTAR
Penelitian ini bertujuan memahami esensi pengalaman kecemasan mahasiswa non-Advent dalam mengikuti kegiatan Pekan Doa yang diwajibkan di Universitas Advent Surya Nusantara (UASN) Pematangsiantar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi transendental Moustakas. Sepuluh mahasiswa non-Advent (dari HKBP, BNKP, semester 2 dan 4, serta berasal dari Sumatera Utara dan Barat) dipilih melalui teknik purposive sampling dan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, kemudian dianalisis melalui tahapan epoche, horizonalisasi, identifikasi unit makna, deskripsi tekstural dan struktural, serta sintesis esensi. Keabsahan data dijaga dengan triangulasi sumber dan konfirmasi partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan tidak semata-mata berasal dari perbedaan keyakinan, melainkan lebih dipicu oleh tekanan institusional dan sosial, yaitu sistem absensi dengan sanksi akademis, pendekatan dosen berulang terkait baptis, serta tekanan fisik dari sesama mahasiswa. Meskipun demikian, semua partisipan tetap menemukan nilai spiritual dalam Pekan Doa dan menerapkan strategi koping religius (doa pribadi, kunjungan ke Taman Doa, komunikasi keluarga). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kecemasan mahasiswa non-Advent terutama merupakan produk struktur institusional yang perlu diperbaiki. Rekomendasi yang diajukan meliputi: universitas meninjau kebijakan absensi, menyusun pedoman etika pastoral, dan menyediakan orientasi khusus bagi mahasiswa non-Advent; dosen dan tenaga pastoral diimbau mengedepankan pendekatan berbasis kasih dan menghormati kebebasan beriman.
Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Mengembangkan Budaya Kerja Guru
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gaya kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan budaya kerja pegawai di MTs N 1 dan 3 Kutai Kartanegara di Kabupaten Kutai Kartanegara. Pendekatan penelitian ini kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumen. Teknik analisa data dalam penelitian ini adalah: penyajian data, kondensasi data, dan penarikan kesimpulan dari model Miles dan Huberman. Juga dilakukan keabsahan data dengan teknik trianggulasi. Hasil penelitian menemukan bahwa gaya kepemimpinan Kepala Madrasah di Kutai kartanegara yang merupakan kepemimpinan yang memiliki gaya visioner dan gaya transaksional serta gaya transformasional yang memperhatikan aspek pencapaian visi, misi, tujuan madarsah, kepemimpinan yang memperhatikan budaya lingkungan madrasah dan komitmen pada kemajuan madarsah dengan pengambilan keputusan dengan gaya bermusyawarah, kepemimpinan yang selalu memotivasi semua, meningkatkan budaya kerja bermutu baik pada guru (tenaga pendidik) maupun tenaga kependidikan serta adanya faktor pendukung dan penghambat yang mendorong kepala sekolah untuk meningkatkan madrasahnya menjadi madrasah yang maju dan unggul.
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA SMPN 1 ARJASA DALAM MENYELESAIKAN SOAL HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) MATERI ARITMATIKA SOSIAL BERDASARKAN GENDER
Berpikir Tingkat Tinggi, Soal HOTS, Aritmatika Sosial, Gender Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dimiliki siswa. Padahal kemampuan berpikir tingkat tinggi memiliki peran penting dalam pembelajaran matematika untuk menyelesaikan suatu permasalahan matematika. Agar siswa memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi yang baik, maka siswa harus terbiasa untuk melatih dirinya untuk menyelesaikan permasalahan yang dianggapnya sulit. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa laki-laki dalam menyelesaikan soal higher order thinking skills (HOTS) materi Aritmatika Sosial, 2) mendeskripsikan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa perempuan dalam menyelesaikan soal higher order thinking skills (HOTS) materi Aritmatika Sosial. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang dilakukan di kelas VIIF yang berjumlah 32 siswa di SMP Negeri 1 Arjasa. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 6 subjek dengan 3 subjek laki-laki dan 3 subjek perempuan yang mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes, wawancara, dan dokumentasi. Untuk keabsahan data pada penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Siswa laiki-laki tidak mampu mencapai semua indikator dari berpikir tingkat tinggi. Siswa laki-laki mampu memenuhi indikator menganalisis tetapi jawaban yang diperoleh kurang tepat. Kemudian untuk indikator mengevaluasi siswa laki-laki mampu memenuhinya. Dan untuk indikator mencipta siswa laki-laki mampu memenuhi dan terdapat satu subjek yang tidak mampu memenuhi indikator mencipta. 2) Kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa perempuan pada penelitian ini yaitu siswa mampu memenuhi semua indikator berpikir tingkat tinggi dan terdapat beberapa siswa yang hanya mampu memenuhi indikator dari berpikir tingkat tinggi yaitu indikator menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Namun, walaupun hanya sebagian siswa yang mampu memenuhi semua indikator berpikir tingkat tinggi, tetapi subjek perempuan terlihat lebih baik daripada subjek laki-laki dalam memecahkan permasalahan matematika.
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING BERBANTUAN PHET SIMULATION UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI GELOMBANG DAN PEMANFAATANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DI MTs NEGERI 2 SIDOARJO
Farah Maulidya Rosa, 2025. Efektivitas Dalam Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbantuan PhET Simulation Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Materi Gelombang Dan Pemanfaatannya Dalam Kehidupan SehariHari Di Mts Negeri 2 Sidoarjo. Skripsi Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Pembimbing I: Tatik Indayati, M.Pd. dan pembimbing II: Ita Ainun Jariyah, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing, Phet Simulation, Kemampuan Berpikir Kritis
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA SMPN 1 ARJASA DALAM MENYELESAIKAN SOAL HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) MATERI ARITMATIKA SOSIAL BERDASARKAN GENDER
Cindy Fiana, 2023: Analisis Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa SMPN 1 Arjasa dalam Menyelesaikan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) Materi Aritmatika Sosial Berdasarkan Gender Kata Kunci : Berpikir Tingkat Tinggi, Soal HOTS, Aritmatika Sosial, Gender Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dimiliki siswa. Padahal kemampuan berpikir tingkat tinggi memiliki peran penting dalam pembelajaran matematika untuk menyelesaikan suatu permasalahan matematika. Agar siswa memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi yang baik, maka siswa harus terbiasa untuk melatih dirinya untuk menyelesaikan permasalahan yang dianggapnya sulit. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa laki-laki dalam menyelesaikan soal higher order thinking skills (HOTS) materi Aritmatika Sosial, 2) mendeskripsikan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa perempuan dalam menyelesaikan soal higher order thinking skills (HOTS) materi Aritmatika Sosial. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang dilakukan di kelas VIIF yang berjumlah 32 siswa di SMP Negeri 1 Arjasa. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 6 subjek dengan 3 subjek laki-laki dan 3 subjek perempuan yang mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes, wawancara, dan dokumentasi. Untuk keabsahan data pada penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Siswa laiki-laki tidak mampu mencapai semua indikator dari berpikir tingkat tinggi. Siswa laki-laki mampu memenuhi indikator menganalisis tetapi jawaban yang diperoleh kurang tepat. Kemudian untuk indikator mengevaluasi siswa laki-laki mampu memenuhinya. Dan untuk indikator mencipta siswa laki-laki mampu memenuhi dan terdapat satu subjek yang tidak mampu memenuhi indikator mencipta. 2) Kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa perempuan pada penelitian ini yaitu siswa mampu memenuhi semua indikator berpikir tingkat tinggi dan terdapat beberapa siswa yang hanya mampu memenuhi indikator dari berpikir tingkat tinggi yaitu indikator menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Namun, walaupun hanya sebagian siswa yang mampu memenuhi semua indikator berpikir tingkat tinggi, tetapi subjek perempuan terlihat lebih baik daripada subjek laki-laki dalam memecahkan permasalahan matematika.
INTERNALISASI KARAKTER RELIGIUS DAN KARAKTER PEDULI SOSIAL SISWA MELALUI PROGRAM ISLAMIC BUILDING DAN CHARACTER BUILDING
Atiris Syari’ah, 2025, Internalisasi Karakter Religius dan Karakter Peduli Sosial Siswa melalui Program Islamic Building dan Character Building (Studi Kasus di Madrasah Ibtidaiyah Internasional Sabilillah Sampang), Tesis, Magister Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Pembimbing: Prof. Dr. H. Agus Maimun, M.Pd., Prof. Dr. Marno, M.Ag. Fenomena kemorosotan moral seperti bullying (perundungan), pelecehan, pergaulan bebas, pencurian, kebiasaan menyontek, melawan guru, dan kerusakan moral lainnya menjadi problem sosial yang terus terjadi dan perlu diatasi hingga tuntas. Oleh karena itu dibutuhkan sistem pendidikan yang menjadikan siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki sikap religius dan kepedulian sosial yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan bentuk nilai-nilai dalam program Islamic Building dan Character Building. 2) Menjelaskan model internalisasi karakter dalam program Islamic Building dan Character Building. 3) Menjelaskan tantangan internalisasi karakter melalui program Islamic Building dan Character Building. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model analisis Miles dan Huberman dengan mereduksi, menyajikan data, dan meyimpulkan data. Data diperiksa keabsahannya melalui uji kredibilitas dengan menambah waktu penelitian, menambah ketekunan peneliti, dan menggunakan triangulasi data Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) nilai-nilai dalam program Islamic Building yakni akidah, ibadah, akhlak, dan istikamah. Sementara nilai dalam program Character Building yakni kepemimpinan, empati, kreatif, kerja sama, dan tanggung jawab. 2) Model internalisasi karakter dalam program Islamic Building dan Character Building yakni transformasi, transaksi, dan transinternalisasi nilai. 3) Tantangan internalisasi karakter yakni kesadaran orang tua, pengaruh negatif teknologi, dan latar belakang siswa. Kata Kunci: Internalisasi, Karakter Religius, Peduli Sosial