Ditemukan 496 karya tulis
SOSIALISASI PELATIHAN LITERASI KEUANGAN
This financial literacy outreach and training activity aims to increase public understanding of the importance of wise and sustainable personal and family financial management. Financial literacy is the ability to understand and manage finances effectively, including knowledge of financial planning, debt management, investment, and financial protection. This activity targets various segments of society, particularly students, MSME owners, and housewives who currently have limited access to financial information and education. The training methods included interactive lectures, financial management simulations, group discussions, and case studies. The results of this activity demonstrated an increase in participants' understanding of the basic concepts of financial literacy and positive changes in their daily financial behavior. It is hoped that this activity will encourage a more financially aware community capable of making sound financial decisions for a better future.
ANALISIS MANAJEMEN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI PERGURUAN TINGGI
One-Stop Integrated Services (PTSP) in higher education institutions is an effort to improve the efficiency and quality of academic and administrative services. However, the implementation of PTSP management still faces various challenges, such as procedural inefficiencies, lack of supervision, and suboptimal service to users. This study aims to analyze the implementation of PTSP management based on the classic POAC management functions (Planning, Organizing, Actuating, and Supervision) and its impact on service quality in higher education institutions. The research method used is quantitative descriptive and verification, with a survey approach through questionnaires to 2 PTSP employees and 20 students as service users. The data analysis technique uses multiple linear regression to test the influence of management variables on service quality. The novelty of this study lies in the combination of the POAC model with the SERVQUAL dimension in the context of PTSP in higher education environments, which has not been widely studied before. Previous studies generally only discuss the implementation of PTSP in the government sector or have not emphasized the direct relationship between managerial functions and perceptions of service quality.
Manajemen High Alert Medication untuk Mencegah Medication Error di Rumah Sakit: Systematic Literature Review
Obat berisiko tinggi atau High Alert Medication (HAM) merupakan golongan obat yang berpotensi menimbulkan bahaya signifikan apabila terjadi kesalahan penggunaan, terutama akibat rentang terapi sempit atau efek samping yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi berbagai strategi pengelolaan obat berisiko tinggi berdasarkan tinjauan literatur guna meminimalkan medication error di fasilitas pelayanan kesehatan. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR). Melalui penelusuran literatur sistematis, peneliti mengidentifikasi 336 artikel dari database Scopus dengan bantuan tools seperti Publish or Perish, serta perangkat lunak Mendeley, Microsoft Excel, dan Covidence.org. Setelah melalui proses seleksi, diperoleh 37 artikel yang memenuhi kriteria untuk analisis deskriptif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa beberapa pendekatan, seperti pelabelan khusus dan prosedur double-check, Computerized Prescriber Order Entry (CPOE), Electronic Medication Management (EMM), sistem informasi rekam medis pasien, audit resep, serta penerapan kebijakan pengamanan obat dengan double-lock system, terbukti efektif dalam menurunkan insiden kesalahan pengobatan di lingkungan rumah sakit.
Penerapan Interprofessional Education (IPE) dalam Meningkatkan Komunikasi dan Kolaborasi antar profesi kesehatan
Abstrak Interprofessional Education (IPE) adalah konsep pembelajaran integratif yang menyangkut pelatihan dan pembelajaran timbal balik antara siswa dari spesialisasi yang berbeda atau profesional kesehatan yang berbeda selama periode waktu tertentu untuk mengadakan layanan kesehatan dengan cara yang praktis dan kolaboratif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang penerapan IPE dalam meningkatkan komunikasi dan kolaborasi antar profesi kesehatan. Untuk mencapai tujuan ini, studi ini menggunakan metode tinjauan literatur (review literature). Tinjauan literatur ini terdiri dari kajian beberapa jurnal penelitian yang berkaitan dengan penerapan pendidikan interprofesional dalam meningkatkan komunikasi dan kolaborasi antar profesi kesehatan. Semua jurnal tersebut diambil dari situs web penelitian online. Berdasarkan tinjauan literatur yang dikutip, dapat disimpulkan bahwa IPE menumbuhkan kolaborasi, komunikasi yang efektif, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran masing-masing profesi. Kata Kunci: IPE, Komunikasi, Kolaborasi, Keperawatan Abstract Interprofessional Education (IPE) is an integrative learning concept that concerns training and mutual learning between students from different specialties or different health professionals over a period of time to conduct health services in a practical and collaborative manner. The aim of this study was to gain an understanding of the application of IPE in improving communication and collaboration between health professionals. To achieve this objective, this study utilized the literature review method. This literature review consisted of a review of several research journals related to the application of interprofessional education in improving interprofessional communication and collaboration. All journals were retrieved from online research websites. Based on the cited literature review, it can be concluded that IPE fosters collaboration, effective communication, and a deeper understanding of each profession’s role. Keyword: IPE, Communication, Collaboration, Nursing
Meningkatkan Kemampuan Kolaborasi dalam Pelayanan Kesehatan melalui Komunikasi Interprofesional Collaboration (IPC)
Di rumah sakit, perbedaan latar belakang profesi menyebabkan masalah komunikasi yang tidak efektif dan hubungan interpersonal yang buruk. Pendidikan interprofesional (IPE) adalah salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kolaborasi antarprofesional karena membantu memperoleh keterampilan komunikasi dan kerja tim di dunia nyata. Systematic review dari berbagai jurnal penelitian melalui kata kunci seperti PubMed, Google Scholar, Science Direct, dan ProQuest. Penulis memilih jurnal yang berfokus pada Interprofessional Education, Interprofesional Collaboration, kerjasama tim, dan komunikasi dengan penyaringan terhadap artikel dan kemudian mengevaluasi dan telaah ulang. Setiap profesi kesehatan memainkan peran penting dalam tim layanan kesehatan, dan analisis tingkat keefektifan tim melalui komunikasi interpersonal sangat berpengaruh pada pelaksanaan Interprofesional Collaboration. Berdasarkan hasil dari analisis tingkat keefektifan tim melalui komunikasi interpersonal, disimpulkan bahwa kerjasama tim dan komunikasi antarprofesional sangat penting untuk pelaksanaan kolaborasi antarprofesional. Berdasarkan hasil dari analisis tingkat keefektifan tim melalui komunikasi interpersonal, diketahui bahwa kerja tim dan komunikasi antarprofesional sangat penting untuk pelaksanaan kolaborasi Kata kunci : Interprofessional Education, Interprofesional Collaboration, kerjasama tim, dan komunikasi
SINERGI KOLABORASI INTERPROFESIONAL DALAM PENANGANAN DIABETES MELITUS UNTUK PERAWATAN TERPADU
Diabetes mellitus is a chronic disease that requires management based on a multidisciplinary approach for optimal treatment outcomes. According to the latest data from the Ministry of Health, Indonesia has around 19.5 million people with diabetes mellitus (DM), making it the country with the fifth highest number of sufferers in the world. The prevalence of diabetes in Indonesia in 2023 reached 11.7%. Interprofessional collaboration among various health workers, such as doctors, nurses, pharmacists, nutritionists, and other related professions, plays an important role in ensuring integrated patient care that focuses on individual needs. This approach not only supports blood sugar control but also contributes to the prevention of long-term complications that can worsen the patient's condition. However, the implementation of this collaboration still faces several challenges, including the lack of effective communication between professions, stereotypes that weaken mutual trust, and the lack of health workers who have undergone special training on cross-professional collaboration. To overcome these obstacles, strategic steps are needed, such as improving interprofessional training, building an efficient communication system, and creating a work environment that supports ongoing cross-professional collaboration. Thus, interprofessional collaboration not only improves the quality of diabetes mellitus management but also helps create a more effective, efficient, and comprehensive patient care-focused health service system. ABSTRAK Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan berbasis pendekatan multidisiplin untuk hasil perawatan yang optimal. Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan, Indonesia memiliki sekitar 19,5 juta penderita diabetes melitus (DM), menjadikannya sebagai negara dengan jumlah penderita tertinggi kelima di dunia. Prevalensi diabetes di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 11,7%. Kolaborasi interprofesional di antara berbagai tenaga kesehatan, seperti dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, dan profesi terkait lainnya, memainkan peran penting dalam memastikan perawatan pasien yang terintegrasi dan berfokus pada kebutuhan individu. Pendekatan ini tidak hanya mendukung pengendalian kadar gula darah, tetapi juga berkontribusi pada pencegahan komplikasi jangka panjang yang dapat memperburuk kondisi pasien. Namun, penerapan kolaborasi ini masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kurangnya komunikasi efektif antar profesi, stereotip yang melemahkan rasa saling percaya, serta minimnya tenaga kesehatan yang mengikuti pelatihan khusus tentang kolaborasi lintas profesi. Untuk mengatasi hambatan ini, diperlukan langkah-langkah strategis, seperti meningkatkan pelatihan interprofesional, membangun sistem komunikasi yang efisien, serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kerja sama lintas profesi secara berkelanjutan. Dengan demikian, kolaborasi interprofesional tidak hanya meningkatkan kualitas pengelolaan diabetes melitus, tetapi juga membantu menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang lebih efektif, efisien, dan terfokus pada perawatan pasien secara menyeluruh. Pendahuluan Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) adalah salah satu penyakit kronis yang paling umum di dunia, dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama di negara berkembang. Peningkatan kasus DMT2 dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti urbanisasi yang cepat yang menyebabkan perubahan gaya hidup masyarakat, termasuk berkurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang tidak sehat. Selain itu, penuaan populasi, di mana jumlah orang tua meningkat secara signifikan, turut meningkatkan risiko diabetes. Sistem kesehatan yang kurang memadai juga menjadi hambatan dalam upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengelolaan diabetes. Manajemen diabetes sendiri bersifat kompleks dan membutuhkan strategi jangka panjang yang melibatkan berbagai tenaga
Implementasi Oral Hygiene Pada Nn. N Dengan Gangguan Sistem Pencernaan: Demam Tifoid Untuk Meningkatkan Pemenuhan Nutrisi Di Rumah Sakit X Pematangsiantar
Pendahuluan: Demam tifoid atau yang lebih sering dikenal tipes merupakan penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Thypi. Bakteri ini biasanya ditemukan di air atau makanan yang terkontaminasi. Selain itu, bakteri ini juga bisa ditularkan dari orang yang terinfeksi. Pemenuhan asupan nutrisi pada pasien demam tifoid sangat penting untuk menjaga nafsu makan pasien, maka dari itu pasien harus rutin untuk melakukan oral hygine setiap hari sebelum dan sesudah makan demi menjaga kebersihan gigi dan mulut. Tujuan dari implementasi oral hygiene ini adalah untuk meningkatkan kebersihan mulut dan nafsu makan. Metode: Penulisan menggunakan metode studi kasus berdasarkan studi literatur Evidence Based Practice pada Nn.N selama tiga hari dengan intervensi oral hygiene. Hasil: penulis mampu melakukan pengkajian dan di dapati adanya keluhan nyeri akut, hipertermi, gangguan nutrisi, diare, dan defisit pengetahuan. Secara garis besar semua intervensi dapat di implementasikan kepada pasien. pendidikan kesehatan oral hygiene, pemenuhan nutrisi pada pasien teratasi sebagian. Kesimpulan: Setelah diberikan implementasi oral hygiene kebutuhan nutrisi pada pasien dapat terpenuhi dengan baik ditandai dengan nafsu makan yang meningkat, kulit tidak kering, dan bising usus normal.
Komunikasi Interprofesional Sebagai Upaya Pengembangan Kolaborasi Interprofesi Di Rumah Sakit: Systematic Review
Komunikasi Interprofessional menjadi sangat penting dalam pelayanan kesehatan saat ini, di mana dapat memperluas populasi pelayanan kesehatan khususnya dalam memberikan perawatan dalam layanan kesehatan. Komunikasi interprofessional efektif adalah keterampilan penting yang dapat meningkatkan fungsi tim yang berkualitas tinggi, dalam perawatan pasien dengan melibatkan beberapa disiplin ilmu seperti dokter, perawat dan tim kesehatan lainnya (kolaborasi interprofesi). Tujuan sistematik review untuk mengetahui apakah komunikasi interprofesional dapat mengembangkan upaya kolaborasi interprofesi di Rumah Sakit. Metode yang digunakan adalah sistematik review. Artikel di cari melalui Google scholar, Proquest, Science direct, di lakukan menggunakan advanced searh dengan kata kunci Interprofesional, Communication, Collaboration,. Di dapatkan 3 artikel di mana masing-masing artikel menghasilkan bahwa komunikasi interprofesional dapat mengembangkan kolaborasi interprofesi di rumah sakit, dengan adanya komunikasi interprofesional yang efektif maka perawat, dokter, maupun tim kesehatan lainnya dapat saling menghargai dan dapat memiliki visi dan misi yang sama dalam memberikan layanan kepada klien guna meningkatkan mutu pelayanan dan kepuasan bagi klien sendiri.
Analyzing Character Value Integration in ESP Materials for Computer Science
This study explores the incorporation of
Improved Learning of the Healthy Living Community Movement During the Pandemic for Budi Cendekia Islamic School Students
Changes in disease patterns in Indonesia are often referred to as the epidemiological transition. In the 1990s the biggest cause of death and illness was infectious diseases. However, in the era of the last 10 years from 2010 to 2020 the biggest causes and causes of death and illness are non-communicable diseases. The increased risk of non-communicable diseases is due to the demographic transition. The Healthy Living Community Movement or commonly known as GERMAS is a movement initiated by the President of the Republic of Indonesia that prioritizes promotive and preventive efforts without compromising curative-rehabilitative efforts. This activity aims to raise public awareness, especially high school students, to be independent in doing GERMAS. Especially in disseminating information about the importance of implementing GERMAS during the Covid-19 pandemic. The activity is carried out using the seminar method, and was carried out by a team of 10 students, 1 lecturer and 1 health practitioner. The implementation time during this community service takes place which is 15 to 20 minutes for each topic with a presentation. After carrying out a series of activities, the committee provides an evaluation link that can be filled in by the participants. The results of the research show that the success rate is above 51% and shows that this community service will affect the target in carrying out GERMAS even though this activity is carried out virtually using the zoom meeting application. The activity in the next future needs to be improved again in the delivery of material and in answering the material in a language that is easily understood by high school students.
Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat di Kelurahan Batu Panjang Rupat
Kualitas kesehatan suatu wilayah dikatakan baik apabila dilihat dari kesadaran masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Rendahnya kesadaran masyarakat kelurahan Batu Panjang terhadap perilaku hidup bersih dan sehat di tengah kondisi air yang belum layak merupakan permasalah yang perlu dibenahi. Dibutuhkan edukasi yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat. Pengabdian KUKERTA Integrasi Batu Panjang UNRI bertujuan untuk menanamkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya perilaku hidup bersih melalui kegiatan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Metode yang digunakan berupa ceramah dan praktik PHBS di tingkat rumah tangga dan institusi pendidikan. Hasil dari kegiatan ini yaitu masyarakat dan siswa telah memahami dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
APPLICATION OF TEAM GAMES TOURNAMENTS TO INTEREST IN LEARNING MIDDLE SCHOOL STUDENTS
In the era of globalization, juvenile delinquency is increasing. One reason is the low awareness of religion. Teachers as educators can suppress juvenile delinquency by increasing students' interest to learn PAI (Islamic Religious Education). In school learning activities, educators can choose a variety of methods, one of which is the TGT (Team Games Tournament). This study aims to determine a significant increase between students' learning interest that is applied and that is not applied to the TGT learning model for class IX SMPN 2 Cipanas. This research method is a quasi-experimental design and pre-test and post-test groups. Data collection techniques using questionnaires and documentation. The results of the data show t_count = 3.824 and t_table = 2.042 with a significance of 0.000 <0.005 which is the result of the t-test. the conclusion of the results of the hypothesis test is accepted "There is an effect of implementing team games tournaments on student learning interest in PAI class IX at SMP Negeri 2 Cipanas Keywords: team games tournament; interest to learn; Islamic education